Gadgetkan – AI Samsung menandai babak baru dalam perjalanan kecerdasan buatan dengan menggeser perannya dari sekadar fitur menjadi mitra tepercaya dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh ChonHong Ng di sela CES Las Vegas, sebuah panggung global tempat masa depan teknologi dipertontonkan. Menurutnya, pengguna tidak lagi ingin direpotkan oleh teknologi yang terasa rumit atau memamerkan kecanggihan semata. AI justru harus bekerja tenang di latar belakang, memahami kebiasaan, dan membantu tanpa diminta. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pendekatan ini terasa relevan karena rumah adalah pusat aktivitas keluarga. Samsung melihat AI sebagai asisten yang hadir secara alami, bukan pengganggu. Transisi ini menggambarkan perubahan cara pandang industri: teknologi tidak lagi soal “wow effect”, melainkan tentang kepercayaan, kenyamanan, dan konsistensi dalam mendukung rutinitas harian pengguna.
Lemari Es Pintar yang Mengenal Kebiasaan Pengguna
Salah satu contoh paling nyata hadir di dapur, lewat lemari es berbasis AI. Samsung merancang perangkat ini agar mampu mengenali kebiasaan belanja dan kondisi isi di dalamnya. Ketika stok susu atau telur menipis, sistem dapat mengirim pengingat ke ponsel pengguna. Bahkan, interaksi suara memungkinkan pengguna merencanakan menu dan daftar belanja langsung dari dapur. Cerita sederhana ini menggambarkan bagaimana AI menyentuh kebutuhan paling mendasar. Di tengah kesibukan harian, teknologi semacam ini membantu mengurangi beban mental dan pemborosan makanan. Bagi banyak keluarga di Indonesia yang berbelanja rutin, rekomendasi berbasis kebiasaan terasa lebih personal. AI tidak lagi terasa seperti teknologi canggih yang jauh, melainkan teman yang membantu menjaga ritme rumah tetap berjalan lancar.
Pengalaman Menonton Lebih Hidup Berkat AI
Di ruang keluarga, AI Samsung mengambil peran berbeda namun sama pentingnya. Pada perangkat televisi, AI bekerja mengoptimalkan gambar berdasarkan jenis konten dan preferensi pengguna. Pecinta sepak bola, misalnya, akan merasakan kualitas visual yang lebih tajam dan nyaman di mata. Samsung juga memperkenalkan teknologi microRGB yang memanfaatkan AI untuk mengatur kontras, kecerahan, dan detail secara presisi. Hasilnya, pengalaman menonton terasa lebih imersif tanpa perlu pengaturan manual yang rumit. Cerita ini menunjukkan bahwa AI tidak selalu hadir dalam bentuk perintah kompleks. Ia bekerja diam-diam, menyesuaikan diri dengan kebiasaan menonton keluarga. Dari siaran olahraga hingga film favorit, AI memastikan setiap momen hiburan terasa maksimal, hangat, dan sesuai selera.
Keamanan dan Privasi Jadi Pondasi Utama
Di balik kenyamanan, Samsung menempatkan keamanan sebagai fondasi utama pengembangan AI. ChonHong Ng menegaskan bahwa privasi tidak mungkin terwujud tanpa sistem perlindungan yang kuat. Melalui platform Knox, Samsung menghadirkan lapisan keamanan di seluruh perangkat, mulai dari ponsel hingga peralatan rumah tangga. Knox Metrics memantau kondisi keamanan perangkat yang saling terhubung, sementara Knox Dashboard memberi gambaran menyeluruh kepada pengguna. Untuk data sensitif, Knox Vault menyimpan informasi langsung di dalam chip, bukan di cloud. Pendekatan ini memberi rasa aman bahwa data pribadi tetap berada di tangan pemiliknya. Dalam cerita rumah pintar, keamanan bukan tambahan, melainkan janji kepercayaan antara teknologi dan penggunanya.
Personalisasi AI Tanpa Mengorbankan Identitas
Samsung memahami bahwa personalisasi adalah kekuatan AI, tetapi juga membawa risiko jika tidak dikelola dengan bijak. Karena itu, perusahaan menerapkan prinsip perlindungan berlapis. Data sangat sensitif dijaga ketat, sementara data perilaku dianonimkan sebelum diolah untuk menghasilkan rekomendasi. Pendekatan ini memungkinkan AI memahami preferensi pengguna tanpa mengungkap identitas pribadi. Di pasar berkembang seperti Indonesia, kepercayaan menjadi faktor penting dalam adopsi teknologi baru. Cerita personalisasi ini bukan tentang pengawasan, melainkan tentang keseimbangan antara manfaat dan perlindungan. Samsung ingin pengguna merasakan AI yang “mengerti” mereka, tanpa rasa khawatir akan penyalahgunaan data. Di sinilah teknologi bertemu etika secara nyata.
AI sebagai Nilai Penting dalam Keputusan Konsumen
Samsung melihat AI kini menjadi pertimbangan penting dalam keputusan pembelian, meski masih berada pada tahap awal adopsi. Konsumen mulai menilai apakah teknologi benar-benar membantu kebutuhan dasar, bukan sekadar tampil canggih. ChonHong Ng menekankan bahwa produk harus tetap unggul dalam fungsi utama, sementara AI menjadi penguat nilai. Seiring semakin banyak perangkat yang terhubung, manfaat rumah pintar berbasis AI akan terasa lebih personal dan mudah digunakan. Cerita ini menggambarkan keyakinan Samsung bahwa AI akan menjadi fitur wajib, seperti inovasi besar sebelumnya. Bukan sebagai gimmick, melainkan bagian tak terpisahkan dari ekosistem rumah yang aman, nyaman, dan manusiawi.