Gadgetkan – Selama bertahun-tahun, chipset selalu dianggap sebagai komponen paling mahal dalam sebuah smartphone. Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Pendiri sekaligus CEO Nothing, Carl Pei, mengungkap bahwa biaya RAM dan penyimpanan internal saat ini justru melampaui harga chipset pada banyak perangkat modern. Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian pelaku industri teknologi karena menunjukkan adanya perubahan besar dalam struktur biaya produksi smartphone. Selain itu, kenaikan harga memori terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Situasi ini membuat banyak produsen harus menyesuaikan strategi produksi dan penentuan harga jual. Bagi konsumen, perubahan tersebut mungkin belum sepenuhnya terlihat. Akan tetapi, dampaknya mulai terasa melalui harga smartphone baru yang semakin tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membuat perangkat menjadi lebih murah, terutama ketika permintaan global meningkat secara drastis.
Ledakan Industri AI Menjadi Pemicu Utama
Salah satu faktor terbesar yang mendorong kenaikan harga memori adalah pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saat ini, perusahaan teknologi di seluruh dunia berlomba membangun pusat data dan infrastruktur AI yang membutuhkan kapasitas memori sangat besar. Akibatnya, permintaan chip DRAM dan NAND meningkat tajam dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menciptakan persaingan antara industri smartphone dan sektor AI untuk mendapatkan pasokan komponen yang sama. Selain itu, produsen memori cenderung memprioritaskan pasar yang memberikan keuntungan lebih tinggi. Dampaknya, pasokan untuk produsen smartphone menjadi lebih terbatas. Ketika permintaan terus naik sementara pasokan tidak bertambah secara signifikan, harga pun melonjak. Fenomena ekonomi sederhana inilah yang kini sedang dihadapi oleh hampir seluruh perusahaan smartphone di dunia.
Baca Juga : Bigetron Cetak Sejarah, Resmi Juara MPL Indonesia Season 17 Usai Tumbangkan ONIC 4-1
RAM dan Storage Kini Menyerap Sebagian Besar Biaya Produksi
Menurut Carl Pei, biaya RAM dan penyimpanan internal kini dapat mencapai lebih dari 50 persen total biaya material atau bill of materials sebuah smartphone. Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya komponen memori dalam perangkat modern. Jika sebelumnya layar atau chipset menjadi komponen yang paling mahal, kini posisi tersebut mulai bergeser. Selain itu, smartphone masa kini memang membutuhkan kapasitas memori yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu. Pengguna menginginkan performa cepat, kemampuan multitasking yang lancar, serta ruang penyimpanan yang luas untuk foto, video, dan aplikasi. Karena itu, produsen sulit mengurangi spesifikasi memori tanpa mengorbankan pengalaman pengguna. Akibatnya, kenaikan harga RAM dan storage langsung berdampak pada biaya produksi secara keseluruhan dan memengaruhi harga jual di pasaran.
Vendor Smartphone Dipaksa Menyesuaikan Strategi
Kondisi pasar yang berubah membuat banyak produsen smartphone harus melakukan penyesuaian. Mereka tidak lagi dapat membeli komponen sesuai kebutuhan dengan harga yang stabil seperti sebelumnya. Sebaliknya, perusahaan harus bersaing untuk mendapatkan kuota pasokan dari pemasok memori global. Situasi ini memaksa vendor melakukan berbagai langkah strategis agar tetap kompetitif. Sebagian memilih menaikkan harga produk, sementara yang lain berusaha mengoptimalkan desain perangkat agar biaya produksi tetap terkendali. Selain itu, beberapa merek mulai mempertimbangkan penggunaan konfigurasi memori yang berbeda pada model tertentu. Meski demikian, menjaga keseimbangan antara harga dan spesifikasi bukanlah tugas yang mudah. Konsumen tetap menginginkan perangkat berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, produsen harus mencari solusi kreatif untuk menghadapi tantangan baru ini.
Baca Juga : EA Sports Prediksi Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Akankah Rekor Akurasinya Berlanjut?
Harga Smartphone Baru Mulai Mengalami Kenaikan
Dampak dari kenaikan harga memori kini mulai terlihat secara nyata di pasar global. Banyak smartphone yang diluncurkan sepanjang tahun 2026 hadir dengan harga lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Dalam beberapa kasus, kenaikan harga mencapai sekitar 100 dolar AS atau setara lebih dari Rp1,8 juta. Meski peningkatan spesifikasi turut berkontribusi terhadap harga tersebut, biaya memori menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan. Selain itu, para analis industri memperkirakan tren ini belum akan berhenti dalam waktu dekat. Selama permintaan AI terus meningkat dan pasokan memori tetap terbatas, produsen smartphone akan menghadapi tekanan biaya yang signifikan. Karena itu, konsumen mulai melihat perubahan harga yang lebih konsisten dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika kompetisi ketat sering membuat harga perangkat cenderung stabil.
Nothing Menjadi Salah Satu Vendor yang Merasakan Dampaknya
Sebagai perusahaan yang sedang berkembang pesat di pasar smartphone global, Nothing juga merasakan dampak langsung dari kenaikan harga memori. Carl Pei mengungkap bahwa biaya komponen pada perangkat terbaru mereka meningkat drastis hanya dalam beberapa bulan. Bahkan setelah produk diluncurkan, harga memori kembali mengalami lonjakan yang signifikan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya masalah sementara, melainkan perubahan struktural dalam rantai pasok teknologi global. Selain itu, Nothing bukan satu-satunya perusahaan yang harus beradaptasi. Hampir semua produsen smartphone menghadapi tekanan yang serupa. Oleh sebab itu, berbagai merek kini mulai lebih berhati-hati dalam menentukan strategi peluncuran produk, konfigurasi perangkat, hingga kebijakan harga yang akan diterapkan kepada konsumen.
Konsumen Disarankan Tidak Menunda Pembelian Terlalu Lama
Melihat tren yang sedang berlangsung, Carl Pei bahkan menyarankan konsumen untuk tidak menunda pembelian smartphone baru apabila memang sudah membutuhkannya. Menurutnya, harga perangkat berpotensi terus meningkat apabila biaya memori tetap berada pada level tinggi. Selain itu, berbagai program promosi dan diskon yang selama ini sering ditawarkan produsen juga bisa menjadi lebih terbatas. Bagi konsumen, kondisi ini menciptakan dilema tersendiri. Di satu sisi, mereka ingin menunggu teknologi yang lebih baru. Namun di sisi lain, harga perangkat di masa mendatang mungkin tidak lagi semurah saat ini. Oleh karena itu, memahami dinamika industri menjadi penting sebelum mengambil keputusan pembelian. Perubahan yang terjadi pada pasar memori global kini tidak hanya memengaruhi produsen, tetapi juga jutaan pengguna smartphone di seluruh dunia.