Gadgetkan – Tekanan terhadap pasar smartphone China melemah semakin terasa sepanjang kuartal III-2026. Data International Data Corporation (IDC) menunjukkan pengiriman ponsel di China turun 15,4 persen secara tahunan pada periode Juli hingga September 2026. Produsen hanya mengirim sekitar 57,9 juta unit, jauh di bawah 68,5 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pasar belum berjalan sesuai harapan. Bahkan, penurunan kali ini lebih dalam dibandingkan dua kuartal sebelumnya. Pada kuartal I-2026, pengiriman turun sekitar 3,3 persen secara tahunan. Selanjutnya, pasar kembali menyusut 4,3 persen pada kuartal II. Tren negatif itu akhirnya berlanjut selama enam kuartal berturut-turut. Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa konsumen China semakin berhati-hati membeli perangkat baru, sementara produsen menghadapi tekanan biaya yang membuat persaingan semakin sulit.
Lemahnya Belanja Konsumen Menahan Permintaan Ponsel Baru
Pelemahan daya belanja menjadi salah satu faktor yang menekan industri smartphone di Negeri Tirai Bambu. Ketika kondisi ekonomi membuat konsumen lebih berhati-hati, pembelian perangkat baru tidak lagi menjadi prioritas bagi sebagian masyarakat. Banyak pengguna memilih mempertahankan ponsel mereka lebih lama selama perangkat tersebut masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, siklus penggantian smartphone ikut memanjang dan volume penjualan perangkat baru kehilangan momentum. Situasi tersebut menjadi tantangan bagi produsen karena inovasi kamera, baterai, kecerdasan buatan, dan performa belum tentu cukup untuk mendorong konsumen melakukan upgrade. Selain itu, persaingan antarmerek semakin ketat karena perusahaan harus memperebutkan permintaan yang lebih kecil. Kondisi pasar smartphone China melemah akhirnya memaksa produsen menyeimbangkan inovasi dengan harga. Tanpa alasan kuat untuk mengganti perangkat, konsumen kemungkinan akan terus mempertimbangkan nilai penggunaan sebelum mengeluarkan uang untuk ponsel terbaru.
Baca Juga : Acer Sospiro A70 Hadir, Layar Belakang Bikin Selfie Lebih Praktis
Harga Chip Memori Membuat Tekanan Semakin Berat
Produsen tidak hanya menghadapi permintaan yang lesu, tetapi juga kenaikan biaya komponen. Harga chip memori dan sejumlah komponen pendukung perangkat meningkat sehingga biaya produksi ikut terdorong naik. Arthur Guo, analis senior IDC, menilai vendor kemudian meneruskan sebagian kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui harga jual ritel. Langkah itu memang membantu perusahaan mempertahankan margin, tetapi pada saat bersamaan dapat menekan permintaan lebih jauh. Konsumen yang sebelumnya sudah berhati-hati menjadi semakin selektif ketika harga smartphone meningkat. Situasi ini menciptakan dilema bagi produsen. Jika perusahaan menahan harga, margin keuntungan bisa tertekan. Sebaliknya, kenaikan harga berpotensi membuat calon pembeli menunda pembelian. Tekanan ganda tersebut ikut menjelaskan mengapa pasar smartphone China melemah semakin dalam pada kuartal ketiga. Vendor kini perlu mencari kombinasi harga, spesifikasi, dan strategi pemasaran yang mampu mempertahankan daya tarik tanpa membebani konsumen.
Huawei Memimpin Pasar dengan Pangsa 21 Persen
Di tengah pelemahan industri, Huawei justru mempertahankan posisi kuat dan memimpin lima vendor terbesar di China. IDC mencatat perusahaan tersebut mengirim sekitar 12,2 juta smartphone selama kuartal III-2026. Jumlah itu memberikan Huawei pangsa pasar sekitar 21 persen. Performa tersebut didukung portofolio produk yang luas serta strategi kenaikan harga yang relatif terbatas dibandingkan tekanan biaya komponen. Dengan pilihan perangkat di berbagai segmen, Huawei mampu menjangkau kelompok konsumen yang memiliki kebutuhan dan kemampuan belanja berbeda. Strategi itu menjadi keuntungan penting ketika konsumen semakin sensitif terhadap harga. Selain itu, posisi kuat Huawei di pasar domestik memberikan fondasi bagi perusahaan untuk mempertahankan momentum di tengah kompetisi yang semakin ketat. Meski begitu, kepemimpinan satu vendor tidak serta-merta menandakan industri sudah pulih. Total pengiriman tetap mengalami kontraksi tajam sehingga keberhasilan Huawei berlangsung di tengah ukuran pasar yang secara keseluruhan sedang menyusut.
Baca Juga : Gemini 4 Argon Hadir, Google Bidik Pekerjaan yang Lebih Kompleks
Apple Mengejar Huawei Berkat Sambutan iPhone Baru
Apple menempati posisi kedua dengan pangsa pasar sekitar 17,8 persen pada kuartal III-2026. Peluncuran iPhone baru mendapat respons yang disebut lebih baik dari perkiraan sehingga membantu perusahaan mempertahankan posisi penting di China. Namun, volume pengiriman Apple tetap turun sekitar 4,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah model yang lebih terbatas juga memengaruhi kemampuan perusahaan memperbesar volume pengiriman di tengah persaingan ketat. Meski demikian, penurunan Apple masih lebih kecil dibandingkan beberapa vendor lokal lain. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik perangkat premium tetap memiliki ruang meskipun pasar smartphone China melemah secara keseluruhan. Namun, Apple menghadapi tantangan mempertahankan konsumen ketika kompetitor lokal terus menawarkan fitur agresif di berbagai rentang harga. Persaingan tidak lagi hanya berputar pada spesifikasi, tetapi juga ekosistem perangkat, kecerdasan buatan, kamera, layanan digital, serta nilai yang diterima konsumen dari setiap pembelian.
Oppo, Vivo, dan Xiaomi Menghadapi Kontraksi Besar
Tekanan yang lebih berat terlihat pada Oppo, Vivo, dan Xiaomi. Ketiga vendor lokal tersebut tetap berada dalam daftar lima besar, tetapi seluruhnya mengalami penurunan pengiriman secara tahunan. Oppo mencatat kontraksi sekitar 17,6 persen dengan pangsa pasar 15,5 persen. Sementara itu, Vivo menghadapi penurunan lebih tajam sebesar 24,9 persen dan menguasai sekitar 15,3 persen pasar. Xiaomi juga mengalami penurunan sekitar 20,4 persen dengan pangsa 13,8 persen. Angka tersebut menunjukkan betapa ketatnya kompetisi ketika permintaan konsumen sedang mengecil. Vendor harus mempertahankan volume sekaligus menghadapi kenaikan biaya produksi yang dapat membatasi ruang untuk memberikan harga agresif. Menariknya, Honor yang tidak masuk lima besar menjadi satu-satunya merek besar dalam pantauan IDC yang membukukan pertumbuhan dibandingkan kuartal sebelumnya. Pergerakan itu memberikan sinyal awal bahwa strategi produk tertentu masih dapat menciptakan momentum meskipun kondisi pasar secara umum belum membaik.
Persaingan Smartphone China Memasuki Fase Semakin Sulit
Perjalanan industri smartphone China dalam beberapa kuartal berikutnya kemungkinan sangat bergantung pada kemampuan produsen membaca perubahan perilaku konsumen. Penurunan selama enam kuartal berturut-turut menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bukan sekadar fluktuasi singkat. Lemahnya belanja masyarakat bertemu dengan kenaikan biaya komponen sehingga vendor menghadapi tantangan dari dua arah sekaligus. Dalam situasi seperti ini, strategi meluncurkan sebanyak mungkin perangkat belum tentu efektif. Produsen perlu memberikan alasan yang lebih kuat agar pengguna bersedia mengganti ponsel lama mereka. Inovasi baterai, kamera, perangkat lunak, AI, hingga dukungan jangka panjang dapat menjadi pembeda, tetapi harga tetap memainkan peranan besar. Sementara itu, performa Huawei dan indikasi pemulihan Honor menunjukkan bahwa peluang belum sepenuhnya tertutup. Namun, selama pasar smartphone China melemah, setiap vendor harus bergerak lebih cermat untuk mempertahankan pangsa pasar tanpa kehilangan keseimbangan antara volume penjualan dan keuntungan.