Gadgetkan – Antusiasme terhadap iPhone Duo langsung terlihat ketika Apple membuka masa pre-order perangkat tersebut. Ponsel lipat pertama Apple itu dilaporkan habis dalam waktu sangat singkat di sejumlah pasar, termasuk China. Situasi ini membuat peluncurannya terasa berbeda dibandingkan seri iPhone reguler. Banyak konsumen tampaknya penasaran dengan langkah Apple memasuki kategori perangkat lipat yang selama beberapa tahun lebih dahulu diramaikan produsen Android. Pembeli yang berhasil mengamankan unit pada gelombang pertama dijadwalkan menerima perangkat mulai 23 Oktober 2026. Namun, cerita berbeda dialami mereka yang terlambat melakukan pemesanan. Ketersediaan unit dengan cepat menipis sehingga estimasi pengiriman bergeser jauh. Fenomena pre-order iPhone Duo ludes ini sekaligus menunjukkan besarnya rasa penasaran konsumen terhadap desain baru Apple, meskipun perangkat tersebut hadir dengan harga premium.
Waktu Tunggu Pembeli Memanjang hingga Tahun Depan
Keterbatasan persediaan membuat calon pembeli iPhone Duo harus menghadapi waktu tunggu yang tidak singkat. Berdasarkan laporan yang beredar, seluruh kombinasi warna dan kapasitas penyimpanan mulai mengalami backorder setelah gelombang pemesanan awal dipenuhi. Sebagian konsumen memperoleh estimasi pengiriman pada 22 Januari 2027, sedangkan pembeli lainnya bahkan harus menunggu hingga 29 Januari 2027. Dengan demikian, jarak antara pembukaan pre-order dan penerimaan perangkat dapat mencapai sekitar tiga bulan bagi konsumen tertentu. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Apple karena momentum awal biasanya sangat penting dalam peluncuran produk baru. Di sisi lain, antrean panjang justru dapat memperkuat kesan eksklusif terhadap produk tersebut. Namun, apabila masa tunggu terlalu lama, sebagian calon pembeli mungkin memilih menunda transaksi. Karena itu, kemampuan Apple meningkatkan produksi akan menjadi faktor penting dalam beberapa bulan mendatang.
Engsel Baru Diduga Membatasi Kapasitas Produksi
Di balik tingginya permintaan, teknologi baru pada perangkat lipat tersebut diduga ikut menyebabkan terbatasnya pasokan. Informasi dari staf Apple Store di China menyebut mekanisme engsel iPhone Duo menjadi salah satu komponen yang membuat kapasitas produksi belum dapat ditingkatkan dengan cepat. Perangkat lipat memang membutuhkan konstruksi berbeda dari smartphone konvensional karena bagian engsel harus bekerja berulang kali tanpa mengganggu layar maupun struktur bodi. Oleh sebab itu, kontrol kualitas menjadi jauh lebih rumit. Salah satu perkiraan bahkan menyebut gelombang pertama hanya menyediakan sekitar 200.000 unit untuk seluruh saluran penjualan. Angka tersebut tentu terasa kecil apabila dibandingkan dengan skala pasar iPhone secara global. Situasi inilah yang dapat menjelaskan mengapa pre-order iPhone Duo ludes begitu cepat. Bukan hanya karena minat konsumen tinggi, tetapi juga karena jumlah perangkat yang tersedia sejak awal memang terbatas.
Kelangkaan Membuka Peluang Besar bagi Para Scalper
Ketika produk populer sulit ditemukan, pasar sekunder biasanya bergerak jauh lebih cepat. Pola serupa kini terlihat pada iPhone Duo. Sejumlah pengepul atau scalper dilaporkan membeli perangkat sejak awal untuk kemudian menjualnya kembali dengan harga jauh lebih tinggi. Di China, varian penyimpanan 256 GB bahkan disebut muncul di platform penjualan kembali dengan harga sekitar 3.885 dollar AS atau kurang lebih Rp69,9 juta menggunakan asumsi kurs Rp18.000 per dollar AS. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari harga resmi perangkat di Amerika Serikat. Kondisi seperti ini tentu kurang menguntungkan bagi konsumen yang benar-benar ingin memakai perangkat tersebut. Namun, selama stok resmi belum mencukupi, harga pasar sekunder berpotensi tetap tinggi. Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa kelangkaan bukan sekadar masalah distribusi. Keterbatasan produk dapat menciptakan ekonomi tersendiri ketika permintaan jauh melampaui jumlah unit yang tersedia.
Harga Premium Tidak Menghalangi Rasa Penasaran Konsumen
Apple menempatkan iPhone Duo sebagai perangkat premium dengan harga yang jauh melampaui sebagian besar smartphone konvensional. Varian 256 GB dibanderol 1.999 dollar AS atau sekitar Rp36 juta. Selanjutnya, kapasitas 512 GB ditawarkan seharga 2.199 dollar AS atau kurang lebih Rp39,6 juta. Sementara itu, model tertinggi dengan penyimpanan 1 TB mencapai 2.599 dollar AS, setara sekitar Rp46,8 juta dengan asumsi kurs yang sama. Menariknya, harga tinggi tersebut belum terlihat mengurangi antusiasme awal konsumen. Justru, laporan mengenai pre-order iPhone Duo ludes memperlihatkan adanya kelompok pengguna yang bersedia membayar mahal untuk mencoba generasi pertama iPhone lipat. Meski demikian, permintaan awal belum otomatis menggambarkan keberhasilan jangka panjang. Setelah euforia peluncuran mereda, konsumen akan mulai menilai ketahanan engsel, pengalaman layar lipat, performa, serta manfaat nyata yang ditawarkan perangkat ini.
Varian 1 TB Menjadi Produk yang Lebih Sulit Didapat
Keterbatasan produksi tampaknya tidak terjadi secara merata pada setiap konfigurasi. Laporan dari China menyebut varian iPhone Duo dengan kapasitas penyimpanan 1 TB baru akan tersedia pada 2027. Situasi tersebut membuat model tertinggi menjadi semakin eksklusif sekaligus lebih sulit diperoleh. Bagi pengguna profesional yang membutuhkan ruang besar untuk video, foto resolusi tinggi, aplikasi, atau dokumen kerja, penundaan ini tentu menjadi pertimbangan penting. Namun, sebagian konsumen kemungkinan akan beralih ke varian 256 GB atau 512 GB agar tidak perlu menunggu terlalu lama. Strategi produksi seperti ini sebenarnya cukup masuk akal apabila Apple ingin memprioritaskan konfigurasi yang diperkirakan memiliki volume permintaan terbesar. Meski begitu, terbatasnya seluruh varian menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya soal pilihan kapasitas. Apple perlu menjaga keseimbangan antara kualitas perangkat generasi pertama dan kecepatan produksi untuk memenuhi permintaan global.
Debut iPhone Lipat Membuka Babak Baru bagi Apple
Kehadiran iPhone Duo menjadi lebih dari sekadar peluncuran perangkat baru karena produk ini menandai langkah Apple memasuki pasar smartphone lipat. Selama bertahun-tahun, perusahaan memilih mengamati perkembangan kategori tersebut sementara sejumlah produsen Android lebih dahulu bereksperimen dengan berbagai desain. Kini, respons pasar awal menunjukkan bahwa nama besar Apple masih mampu menciptakan gelombang permintaan ketika perusahaan menawarkan bentuk perangkat yang berbeda. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah produk sampai ke tangan lebih banyak pengguna. Daya tahan engsel, kualitas layar, optimalisasi aplikasi, serta pengalaman penggunaan sehari-hari akan menentukan apakah iPhone Duo mampu berkembang menjadi lini utama atau sekadar produk eksperimental. Untuk sementara, pre-order iPhone Duo ludes menjadi sinyal kuat bahwa rasa penasaran pasar sangat besar. Selanjutnya, kemampuan Apple memenuhi pesanan tanpa mengorbankan kualitas akan menjadi ujian terpenting.